Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Lihat Saja Nanti

by - Saturday, April 06, 2013

“Teng.. teng.. teng” bel pulang sekolah berbunyi. Ini saatnya kami membereskan semua peralatan sekolah yang terlihat berserakan dibangku masing-masing. Buku, pensil, penghapus, dan pulpen kembali ke alamnya masing-masing. Setelah teman-temanku tak terlihat dari pandangan, aku menutup pintu kelas dengan perlahan. Rasanya malas untuk pulang ke rumah. Lalu terpikirlah di benakku untuk pergi ke kantin menemui seorang wanita setengah baya bersifat lemah lembut bagai bidadari yang diutus untuk menemaniku dikala galau mendera.
“Kenapa Neng? Kok mukanya sedih gitu?” tanya Bi Inah, penjual bakso dan makanan ringan di sekolahku. Mungkin dialah satu-satunya orang yang bisa aku ajak curhat. Selain pandai menyimpan rahasia, Bi Inah juga terkadang memberiku solusi terbaik untuk semua masalahku. “Emang orang tua de’ Tira pada kemana? Kok sampai gak dianggap gitu?” Bi Inah menambahkan.
“Dimata mereka, sepertinya aku ini bodoh Bi, gak cerdas kayak saudara-saudara yang lain,” jawabku singkat.
“Sabar aja ya Neng, Allah tidak tidur. Suatu saat Allah pasti akan membuka jalan menuju kesuksesan itu,” kata Bi Inah lirih.
Aku menghela napas. “Hmm iya Bi, lihat saja nanti akan aku buktikan kalau aku bisa.”
Aku tahu diri, saudara-saudaraku lebih pintar dariku. Walau aku selalu yakin, tak ada orang yang bodoh dan pintar di dunia ini. Yang ada hanya orang malas dan orang yang rajin. Mugkin bedanya, mereka bisa sekolah ke SMA favorit di daerahnya masing-masing. Bagi mereka, I’m is nothing!
Jujur, sebenarnya aku malas pulang ke rumah. Karena aku sudah tak yakin ada yang mempedulikan aku lagi. Namun karena besok aku harus kembali melakukan rutinitas bersekolah akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Matahari hampir tenggelam ketika aku masuk ke dalam rumah. Untunglah penghuni rumah sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sehingga tanpa basa-basi aku langsung pergi ke kamar. Aku terdiam di balkon kamar sembari menikmati indahnya pemandangan di sore hari. Sambil menulis diatas secarik kertas putih, sesekali aku meneteskan air mata yang sedari dulu aku pendam sendiri dan bisa jadi inilah puncak kesedihanku. Tanpa disadari jadilah sebuah cerita pendek pertamaku yang berjudul “Lihat Saja Nanti”.  Ya, naluri menulisku memang lumayan, tapi sayangnya aku malu untuk mempublikasikan karyaku pada khalayak ramai. Namun, sekaranglah waktunya untukku menunjukkan ini pada kedua orangtuaku. Iseng-iseng aku mengirimkan cerita pendek ini pada sebuah koran lokal.
Satu hari setelah mengirimkan cerita pendek itu tiba-tiba Ayah menemuiku lalu memelukku erat. “Kamu ternyata punya bakat menulis, Nak!” Ayah menatap mataku nanar. Suasana mendadak mengharu biru.
Aku terheran-heran, masih tak mengerti apa yang dikatakan Ayah. Perlahan  ia melepaskan pelukannya lalu menunjukkan sebuah koran remaja. Disana tercantum judul cerita pendekku, dan dibawahnya tertulis namaku. Oh ternyata cerita pendekku dimuat dalam koran tersebut!
Aku membalas tatapan itu. Ternyata semua terbukti, akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku bisa berhasil sukses dengan caraku sendiri.


You May Also Like

0 komentar

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa