Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Hati yang Terpiatukan

by - Saturday, April 06, 2013


HATI YANG TERPIATUKAN

Langit biru tersemaikan awan, nampak begitu pucat tak berseri. Keheningan di tengah kebisingan suara-suara lembut burung-burung bersiul. Desahan angin menggoyangkan dedaunan berhembus menelusup ke selaksa tubuh begitu dinginnya pagi ini menyapa bersama mentari yang tersenyum semu memandangku bermata sayu.
Terbanglah dihadapanku burung-burung itu, dari udara terlihat kebahagiaan  dibalik kepakan sayap. Inginku terbang bersama mereka, namun yang nyata hanya harapan semu. Sayapku patah untuk menembus cakrawala. Jangankan untuk terbang ku kepakan pun sakit, dan tersentuh angin pun perih yang begitu maha dahsyatnya. Begitu parah luka akan sayapku yang patah.
Bak mentari pagi bersinar pucat diantara keheningan. Dari balik sinarnya aku terduduk menatap ilalang yang menggoyangkan tubuhnya becandakan ria bersama burung-burung. Tersemai dalam benakku bayangan masa lalu mengisi kekosongan sudut mata. Tampak gelisah jiwa ditengah kesendirian. Hanya air mata yang menemaniku dari balik kelukaan hati. Terbitlah sebuah kesakitan, kekecewaan dan kebencian yang tak berujung. Ku tarik dalam-dalam nafas, ku hempas secara perlahan. Menahan kesesakan di dalam dada.
“Huft . . .” lirih sanubariku, berbisik mendesah.
Tuhan, tak mampu untuk ku ingkari lagi. Aku menangis merasakan kesakitanku yang tak ingin kehilangannya. Dosakah diriku yang belum mampu melepaskannya, hinakah jiwaku yang selalu mengemis kehadirannya disisiku. Kini aku telah dipiatukan oleh kekejaman hatinya.
Bimbinglah aku. Agar aku senantiasa ikhlas untuk melepaskan semua tentangnya. Aku sungguh tak sanggup bila harus terus menahan kesakitan ini yang tak pernah berujung menemani kegelisahan hidupku selama ini.
Kebahagiaanku terenggut, masa-masa yang indah itu telah hilang. Hanya kepedihan dan air mata temaniku selama ini. Hari-hariku terisikan kebimbangan hati. Antara melangkah atau mundur, antara menangis atau tersenyum, tersendu atau tertawa, melupakan atau memeluknya. Sungguh tak terkira dengan apa yang kurasa saat ini. Semua begitu gelap, tak tampak sinar mentari itu menyapaku lagi.
Tuhan, bagaimana bisa aku harus selalu seperti ini? Menangisi, menangisi, dan  menangisi kepergiannya. Hanya air mata, air mata, dan air mata yang menyapaku setiap waktu kala aku terbangun dari tidurku ataupun kala aku tertidur di kesunyian malam.
Tak bisa ku ingkari aku selalu sayang dia. Tak mampu aku pergi dan lepaskan semua tentangnya. Diantara keramaian pun aku hanya termenung sendiri menatap langit biru tersemaikan awan.

“Belajarlah untuk menikmati indahnya hidup mulai sekarang, sebelum satu hal datang padamu –kesepian-“

-AHS-


You May Also Like

0 komentar

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa