Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Friendzone

by - Thursday, September 26, 2013


Pernah denger sama yang namanya ‘friendzone’? Atau mungkin pernah ngerasain? Enak nggak sih ngejalanin friendzone itu?

Mungkin, bagi sebagian orang yang masih awam banget, mereka nggak tau apa dan bagaimana hukum friendzone terjadi. Tapi, kalau dilihat secara harfiah (duileh, berasa lagi belajar sejarah), friendzone berasal dari kata friend dan zone. Friend berarti teman, dan zone berarti zona/area. Berarti kalau diartikan, friendzone adalah zona teman. Hah? *translate via google, hahahaha xD* Yaaaa, intinya friendzone adalah suatu proses dimana di dalam sebuah pertemanan/persahabatan timbul perasaan suka atau bahkan cinta yang melebihi dari rasa sayang sebagai seorang teman/sahabat, dan biasanya ini terjadi diantara salah satunya.

Friendzone ini juga punya getar-getir ceritanya tersendiri. Kadang, ada friendzone yang berbuah manis, dan seringnya juga yang berbuah kengenesan. Nah, friendzone yang berbuah manis adalah ketika salah satu diantara teman tersebut, yang pasti antar lawan jenis (normalnya), cinta sama si doi. Dan doi pun membalas rasa tersebut dengan perasaan yang sama pula. Jadi, diantara kedua sahabat itu saling suka atau saling cinta.

Mmm... Enak sih kalau friendzone gini, jadinya nggak harus ngerasa takut gimana-gimana. Ya walaupun gitu, jarang banget ada friendzone jenis ini, karena biasanya, mereka –para sahabat sejati-ers– bakal tetap mempertahankan rasa persahabatan di atas segalanya, mereka nggak bakal sampai terjerumus api percintaan yang kelak bisa ngancurin persahabatan mereka sendiri, secara internal #tssaaah.

Lalu, apa yang dimaksud dengan friendzone yang berakhir dengan rasa kengenesan? Friendzone jenis ini paling marak banget terjadi, udah banyak juga kasus friendzone yang sampai terekspos media #halah. Friendzone yang berakhir dengan rasa ngenes adalah friendzone yang nggak kesampean. Alasannya ada 2, yang pertama karena doi yang disukai oleh friendzone-ers nggak membalas rasa tersebut dengan alasan doi emang mau sahabatan aja, dan yang kedua ketakutan berlebih pada diri si friendzone-ers gegara takut persahabatan hancur berkeping-keping gitu aja.

Oke, mari kita bahas satu persatu dari kedua alasan tersebut. Yang pertama, nggak ada balasan rasa dari si doski. Kenapa? Bisa jadi alasannya emang doski nggak mau ada cinta dalam sahabat, cukup jadi sahabat aja, nggak usah lebih. Toh, kalaupun lebih, mending sang friendzone-ers ini cukup pendem aja dalam hati, siapa tau pikiran doski berubah nantinya. Hmmm... Tipe friendzone-ers ini nantinya bakal selalu ngerasa kecewa kalau gitu, bahkan nggak menutup kemungkinan dia bakalan minta menjauh dari sahabatnya gegara nggak jadian. Ngenes kan?

Kedua, ketakutan berlebih. Takut sih boleh ya, asal jangan kelewat paranoid juga. Nah, pada mereka yang friendzone-ers, mereka bakal mikir berkali-kali untuk nyatain perasaannya ke sahabatnya itu. Bagi mereka, hal ini dirasa perlu dan wajib banget, biar nggak salah ambil keputusan sehingga mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan. Mereka bakal mikir apa yang akan terjadi nantinya kalau sampai berani jujur tentang hatinya. Satu pikiran yang bisa berkelebat adalah adanya kehancuran dari persahabatan, takut kalau-kalau saat dia bilang, dan doi nggak nerima hal itu, malah berakibat ke persahabatan mereka.

Persahabatan yang dulu dibangun dari rasa solid sebagai teman, hancur begitu aja gara-gara rasa cinta yang nggak dipikirin dampaknya. Hal ini mungkin bisa jadi masalah bagi para friendzone-ers, mereka selalu takut dan takut. Kalau mereka nyatain, dampaknya ya itu, mengorbankan persahabatan. Sedangkan, kalau nggak nyatain, mereka bakal terus-menerus tersiksa akibat perasaannya. Aneh kan?

Memang sih, kelihatannya sepele, boleh aja nyatain perasaan langsung, tapi kalau bener-bener nggak dipikir, bisa bahaya juga. Ngutip dari salah satu kalimat kece, “Setiap teman bisa menjadi pacar, tapi tidak setiap pacar bisa menjadi teman,”. Maksudnya ialah, setiap dari pertemanan lawan jenis, biasanya bakal ada yang saling suka hingga berujung pada terjalinnya pacaran. Namun, tidak setiap yang pacaran apalagi setelah putus bisa berakhir dengan jalinan pertemanan.

Aku juga pernah terjebak friendzone, dan sekarang juga lagi ngerasain hal demikian untuk yang kedua kalinya (yang inget). Berhubung udah SMA, dan berarti pikirannya mulai rada dewasa, aku jadi nggak berani untuk nyatain perasaan hati ini langsung, walaupun cuma bilang ‘aku suka kamu’. Hey, siapa kira, tiga kata yang biasa aja, aku-suka-kamu, bisa mengubah sebuah persahabatan yang udah lama dijalin. Mending dan lebih baik, endapkan aja dulu perasaannya, tunggu sampai waktu yang tepat tiba, dan mungkin kali ini, aku udah dapat waktu yang tepat, waktu dimana pada akhirnya aku nggak bakal nyatain tiga kata itu karena dia ‘gettingbacktogether’ with other.

Intinya, jangan berpikir terlalu singkat dan terlalu memaksakan kehendak hati sendiri #udahituaja. Oia, sekalian rekomendasi sih, boleh tuh baca atau nonton film Refrain, pas banget sama kamu-kamu yang lagi kejebak sebuah friendzone :D #berakhirdenganrekomendasibuku.

Udah deh itu aja, besok-besok pengen ah posting tentang kakak-adek-zone xD *ditimpuk para kakak-ade-ers*.

You May Also Like

2 komentar

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa