Blog by @asysyifaahs. Powered by Blogger.

Broken Heart

by - Wednesday, October 23, 2013



Sampai kapanpun, waktu tak akan pernah bisa merubah keadaan hati yang telah rapuh ini. Tak akan pernah bisa menyatukan mozaik-mozaik sebuah perasaan yang terlalu hancur. Dan hatiku adalah diantaranya, sebuah perasaan hati yang tak pernah bisa kembali utuh. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki hati yang sempurna. Kegelisahan jiwa yang terus menerus merambat ke sekujur tubuh, membuat deraian air mata tak bisa kutolak lagi.
Dan aku adalah diantaranya, yang tak pernah lelah untuk menerima setiap jatuhan air bening dari pelupuk mata, menangisi setiap waktu yang tak pernah bisa kupahami, dan menyesali setiap detik yang telah berlalu. Aku dan hatiku adalah diantaranya.

Aku memang tak mengerti siapa aku. Jika itu adalah hal yang terlalu tabu, maka aku diantaranya. Kesalahan terbesar bagiku, tak pernah tahu siapa diriku sebenarnya. Dan mungkin, ini adalah kesalahan yang pernah mereka ketahui tentangku.

Aku terlalu lelah untuk berdiri bangkit dari keterpurukan asa. Berjalan dengan harapan kosong dan ketakberdayaan jiwa. Aku lelah menjalani setiap guncangan hidup yang sering kali membuat hati ini remuk.

Aku tertinggal, dan tak pernah bisa untuk mengikuti mereka yang telah mendapat mimpi-mimpi itu. Karena aku tak berada diantaranya, bahkan sesenti kebahagiaan hidup, aku tak pernah bisa merasa.

Aku berdiri, lalu jatuh, kembali berdiri, lalu terjatuh lagi. Aku terlalu lemah untuk ini. Bagaimana mungkin aku terus-menerus memperjuangkan setitik asa jika ia menghilang begitu saja? Membiarkan titik itu meninggalkanku –sendirian.

Bagaimana mungkin aku bisa berhenti kecewa, seolah-olah bahwa semuanya terasa baik-baik saja? Tak pernah ada alasan pasti mengapa aku harus hidup dan membuat keyakinanku bahwa aku akan tetap tinggal disini.

Satu kesedihan ini menguap. Tidak, bukan membaur pecah menjadi sebuah kebahagiaan. Ia mencipta kembali rasa sedih yang lain, seakan-akan terus-menerus demikian.

Dan aku adalah diantaranya, diantara perasaan senang pun sedih. Atau mungkin sedikit menepi dengan rasa putus asa. Aku takut, takut berdekatan dengan perasaan gembira yang orang-orang katakan bahwa itu menyenangkan. Walau aku sendiri ingin menjadi jiwa yang merasakan bahagia.

Aku melangkah, melalui jalan yang salah. Menyusuri setiap titik kegelisahan, meninggalkan semua kebahagiaan di masa lalu.

“Sayang, kau tak akan pernah bisa meraihku. Kau terlalu hancur untuk menggenggamku. Jangan...,” Aku takut, entahlah, takut untuk menjadi bahagia. Dan tak pernah menyesal untuk menjadi sedih.

“Maaf, Sayang. Jiwamu terlalu lama terbalut dengan kesedihan. Dengannya, kau selalu merasa itulah dirimu. Jangan menginginkanku, Sayang. Jangan buat dirimu lelah untuk berjuang untukku,”

Bodoh! Aku muak dengan semua ini, kalimat-kalimat manis yang keluar darinya. Aku benci padanya.

Apakah kau mengerti keadaanku saat ini, Tuan? Oh tentu saja tidak. Aku mengerti. Tapi tunggu Tuan, aku berjanji, suatu saat nanti, banyak detik lagi, aku akan belajar dari kesedihan yang telah kau tujukan untukku. Walau kau tahu, luka itu tlah lama kukubur dalam lubang yang teramat dalam. Nanti, aku akan belajar, bagaimana caranya untuk menjadi sosok lain yang kau inginkan. Iya, suatu saat nanti, aku berjanji.

Aku berjanji.
Aku berjanji.

-    - Broken Heart, October 18th 2013


You May Also Like

0 komentar

Thanks for read my post. Leave a comment and I'll come to your home as soon as possible.

with ♥, acipa